Be Someone Special

“Be someone special,” tutur Bu Utami suatu waktu pada mata kuliah English Curriculum.

Sudah cukup lama tiga kata penyemangat itu tertempel di dinding, beberapa kali memantik harapan, namun juga berkali-kali terabaikan. Lalu hari ini, ketika rasa rindu muncul pada sahabat saya yang entah sekarang di mana, semangat itu muncul lagi. Saya sering dan suka sekali kepo, membuat teman-teman sebal dengan kekepoan saya. Petang ini kekepoan saya mengantar saya pada sebuah pertanyaan besar yang tak kunjung mendapat jawaban, mengusik pikiran di sela-sela tugas yang berteriak meminta dituntaskan. Sahabat aliyah, teman sekelas, sering sebangku, sehobi, sekamar di asrama, seperjuangan di sebuah lembaga bimbingan belajar. Terakhir bertemu pada bulan agustus yang lalu. Sekarang kangennya bertubi-tubi karena ada indikasi dia pindah kuliah, entah kemana, meskipun masih dugaan. Berdasarkan hasil kepo linimasa sosial medianya, banyak teman-teman kuliahnya bilang kangen, kapan bisa ketemu lagi, dan mendoakan banyak hal. Dia lovable memang. Dia juga ngangenin.

Sahabat yang lain, yang sekalinya childish begitu menyebalkan, sekalinya motherish bikin terharu. Teman tsanawiyah yang juga sealiyah namun dia lulus duluan, sekarang seuniversitas dan seatap kos-kosan. Semenjak dilarang membawa motor oleh ibunya akibat cidera yang dialaminya beberapa waktu lalu, dia sudah tak pernah jalan-jalan jauh lagi. Hobinya belajar di kamar dan ketika melihatnya hendak berangkat takziah ke rumah temannya yang berada di ujung timur pulau jawa, saya dengan berat hati melepaskannya. Jarang sekali melewatkan malam-malam di kos tanpanya. Ada perasaan sedih, perasaan kehilangan. Saya dan beberapa teman yang lain berteriak-teriak alay ketika dia hendak turun tangga. Kosan akan sangat berbeda tanpanya.

Mereka berdua lovable, ngangenin, spesial. Lalu saya apa? Nyebelin, njengkelin, geje, tukang php. Pertanyaan besar adalah apakah saya selovable mereka yang keberadaanya selalu dinantikan? Apakah saya sengangenin mereka yang ketika jauh dirindukan? Apakah saya sespesial mereka yang membuat saya berbeda dengan banyak orang? Saya ingin seperti mereka. Saya harus berubah. Nggak boleh nyebelin, njengkelin, sering geje, sering galau, atau pun php.

Halo kalian, saya rindu. Di mana pun kalian berada, teman paling dekat yang mampu mengerti melalui tatapan mata tanpa mengucapkan sepatah kata, semoga kalian baik-baik saja, barakallah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: