Meet Up!

Akhir-akhir ini, saya dan teman-teman seringkali susah memilih tempat untuk dituju. Entah karena terlalu banyaknya tempat wisata dan kuliner di Malang atau karena nggak ada yang tepat menurut kami. Namun yang jelas, butuh waktu yang lama -berjam-jam atau bahkan berhari-hari hanya untuk menentukan tempat untuk berkumpul bersama.

12.00 p.m. Toast Story.

Finally, after a long debate and discussion, we met at Toast Story -tempat yang sebenarnya bukan tujuan awal kami karena Mochi Maco sedang full dan kami males antre. We should have said sorry to Mbak A’im cause she was uninteintionally trapped on the wrong place haha. Yah, akhirnya saya bertemu lagi dengan Mbak Indry setelah sekian bulan lamanya tidak bertemu (She moved to a city where Mr Ridwan Kamil rules the area). Bertemu dengan Ambar, Devi, Alfy, Mbak Indry beserta si story teller Mbak A’im rasanya memang menyenangkan. Thank you so much for Devi for the drinks. Happy belated birthday to you, barakallah! :*

2.00 p.m. Mie Galau.

Sembari menunggu Mbak Nur yang tersesat karena tidak tahu alamat Mie Galau, kami pun menikmati hidangan yang kami pesan. Hampir dua jam kami menghabiskan waktu di salah satu meja di tempat ini, mendengarkan Mbak A’im yang berkuliah tentang pelajarannya di Poltekkes. Saya yang penasaran akhirnya memberanikan diri bertanya ini itu seputar masalah persalinan. Dan voilaaa!! Banyak banget pelajaran yang kami dapat dengan mendengarkan Mbak A’im bercerita sambil bercanda. Mbak A’im never fails to make us laugh out loud!

Ngomongin masalah Mie Galau, ternyata meski pun tempatnya agak susah dijangkau dan cukup ‘nylempit’, tempat ini nggak sepi pengunjung sama sekali. Bahkan antrenya, waduh, tanya Mbak A’im, Devi, Alfy, dan Mbak Nur aja yang sudah merasakan. This fact makes me wonder about the way they publicize and advertise the place. It totally works, indeed! Hal ini menunjukkan bahwa tempat strategis tidak selalu merupakan salah satu hal penting dalam membangun bisnis; publisitas dan iklan juga memainkan peran yang penting!

5 p.m. Ambar and Devi’s house.

Mbak A’im memisahkan diri dari kami -eh maksudnya pulang duluan, sedangkan kami beralih ke kontrakannya Ambar dan Devi yang terletak di daerah Suhat. Kami mengobrol banyak hal dan yang paling mengesankan, Alfy menjelaskan kepada kami hasil praktiknya tentang produk makanan yang sehat dan berbahaya. Saya sendiri jadi sedikit paham bagaimana caranya memasak sayur yang baik serta apa itu krupuk aci -itu loh, krupuk yang sering dijual di toples besar. Selanjutnya, kami nostalgia jaman-jaman aliyah dan cuss menuju UB untuk melihat bazar vokasi yang harus dilalui dengan menembus kemacetan Suhat di malam minggu.

8.30 p.m. UB.

Jika kalian bertemu dengan saya saat ini, kalian akan dengan jelas dapat melihat stempel di tangan kiri saya yang menunjukkan bahwa saya, ya, masuk ke bazar universitas tetangga hehe. Kami kemudian menuju lapangan dan mencoba berbagai gaya mulai dari gayanya Mbak Sungkar, selfie, sampai pake timer segala. Namun yang paling tak terlupakan adalah ligthing. Baru pertama kali ini saya dan teman-teman berfoto dengan efek lighting dari senter hape. Selain itu, kami dengan tanpa sadar membagi tugas sebagai fotografer, lighting, pengarah gaya dan ide, serta model. Berkreasi dan berekspresi menggunakan kameradengan anak-anak Arrosyid ini memang selalu menyenangkan.

Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: